Nama : Ragil Mulyana
Npm :
17711066
Matkul : Komunikasi Massa
Ada 15 Teori Komunikasi Massa Menurut Para Ahli antara lain :
1. Teori Pengaturan Agenda (Agenda Setting Theory)
Teori pengaturan agenda merupakan salah satu teori yang
menjelaskan efek kumulatif media. Beberapa tokoh yang merumuskan teori ini
adalah Bernard Cohen, Maxwell McCombs, dan Donald
Shaw. Teori pengaturan media menggambarkan kekuatan pengaruh media. Inti
dari teori pengaturan media adalah pembentukan kepedulian dan perhatian publik
terhadap beberapa isu yang ditampilkan oleh media berita.
Terdapat dua asumsi
dasar yang mendasari sebagian besar penelitian mengenai pengaturan media yaitu
bahwa pers dan media tidak merefleksikan kenyataan yang sebenarnya setelah
dilakukan penyaringan, dan konsentrasi media terhadap beberapa isu dan subyek
mengajak publik untuk menerima isu tersebut lebih penting daripada isu lainnya.
2. Teori Sistem Ketergantungan Media (Media Systems
Dependency Theory atau Dependency Theory)
Teori ini menyatakan bahwa media bergantung pada konteks sosial
dan pertama kali dirumuskan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin
DeFleur (1976). Mereka memandang bahwa bertemunya media dengan
khalayak didasarkan atas tiga perspektif, yaitu perspektif perbedaan
individual, perspektif kategori sosial, dan perspektif hubungan sosial
(Rakhmat, 2001 : 203)
Asumsi teori ini
memandang bahwa dependensi relatif khalayak terhadap sumber media massa jika
dibandingkan dengan sumber informasi lainnya merupakan suatu variabel yang
harus ditentukan secara empiris. Semakin besar kadar dependensi khalayak
terhadap media massa dilihat dari segi perolehan informasi dan semakin tinggi
kadar kritis serta ketidakstabilan masyarakat, maka akan semakin besar pula
kekuasaan yang dapat dimiliki oleh media (atau kekuasaan yang dikaitkan dengan
peranannya) (McQuail, 1987 : 84-85).
3. Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence Theory)
Teori yang diperkenalkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann (1974)
menggambarkan hubungan efek media terhadap pembentukan opini publik dan pola
perilaku demokratis. Frasa “spiral of silence” mengacu pada bagaimana
orang-orang yang cenderung untuk tetap diam ketika mereka merasa pandangannya
merupakan minoritas. Setiap individu yang melihat opininya sendiri diterima
akan mengekspresikannya.
Sementara itu, mereka
yang berpikir dirinya sebagai minoritas akan menekan pandangannya. Para
innovator dan agen perubahan tidak takut dalam menyuarakan pendapat yang
berbeda sebagaimana mereka tidak takut terhadap isolasi.
4. Teori Kesenjangan Pengetahuan (Knowledge Gap Theory)
Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Phillip Tichenor, George
Donohue, dan Clarice Olien. Teori ini menyatakan bahwa
bertambahnya jumlah informasi mengenai suatu topik mengakibatkan bertambahnya
pula kesenjangan pengetahuan antara mereka yang mengetahui lebih banyak dan
mereka yang mengetahui lebih sedikit.
Teori kesenjangan
pengetahuan dapat membantu menjelaskan berbagai penelitian yang menitikberatkan
pada opini publik. Kesenjangan pengetahuan dapat menghasilkan bertambahnya
kesenjangan antara orang-orang yang memiliki status sosioekonomi yang rendah
dan orang-orang yang memiliki startus sosioekonomi yang tinggi.
Kemudian, memperbaiki
kehidupan orang-orang dengan informasi melalui media massa tidak selalu
berjalan lancar sesuai dengan yang telah direncanakan karena menemui
berbagai hambatan-hambatan
komunikasi. Media massa mungkin saja memberikan efek memperbesar
perbedaan kesenjangan diantara anggota kelas sosial.
Terdapat lima alasan
untuk menjustifikasi terjadinya kesenjangan pengetahuan sebagaimana yang
diutarakan oleh Tichenor, Donohue, dan Olien (1970) yaitu bahwa orang-orang
dengan tingkat sosioekonomi yang lebih tinggi :
·
Memiliki keterampilan komunikasi, pendidikan, kemampuan membaca,
kemampuan mengingat informasi yang lebih baik.
·
Dapat menyimpan informasi secara lebih mudah atau mengingat
topik berdasarkan latar belakang pengetahuan.
·
Memiliki konteks sosial yang lebih relevan.
·
Lebih baik dalam melakukan terpaan selektif, penerimaan, dan
retensi.
·
Lebih mudah menjangkau media massa.
5. Teori Imperialisme Budaya (Cultural Imperialism Theory)
Denis McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi
Massa (1987 : 99 -100), teori ini berasal dari teori sekaligus bukti
awal mengenai peran media dalam pembangunan nasional. Teori ini berpandangan
bahwa media dapat membantu modernisasi dengan memperkenalkan nilai-nilai barat
dilakukan dengan mengorbankan nilai-nilai tradisional dan hilangnya keaslian
budaya lokal.
Secara sederhana dapat
dikemukakan bahwa nilai-nilai yang diperkenalkan itu adalah nilai-nilai
kapitalisme dan karenanya proses imperialistis serta dilakukan secara sengaja,
atau disadari dan sistematis, yang menempatkan Negara yang sedang berkembang
dan lebih kecil di bawah kepentingan kekuasaan kapitalis yang lebih dominan.
6. Teori Studi Kultural Kritis (Critical Cultural Studies
Theories)
Teori ini
menitikberatkan pada peran sosial media massa dan bagaimana media dapat
digunakan untuk mendefinisikan hubungan kekuasaan diantara beragam subkultur
dan menjaga status quo. Para ahli meneliti bagaimana media berhubungan dengan
berbagai masalah seperti ideologi, ras, kelas sosial, dan gender.
Kemudian, media
tidak hanya dilihat sebagai sebuah refleksi budaya tapi juga sebagai produser
budaya mereka sendiri. Penekanannya adalah pada bagaimana struktur sosial dan
politik mempengaruhi komunikasi bermedia dan bagaimana dampak hubungan
kekuasaan dalam menjaga atau mendukung kekuasaan tersebut dalam masyarakat.
7. Teori Sosial Kognitif (Social Cognitive Theory)
Teori sosial kognitif dibangun pertama kali oleh seorang
psikolog Albert Bandura sekitar tahun 1960an.
Teori ini
menitikberatkan pada bagaimana dan mengapa orang-orang cenderung untuk meniru
apa yang dilihat melalui media. Ini adalah teori yang fokus pada kapasitas kita
untuk belajar dengan mengalaminya secara langsung.
Proses belajar melalui
pengamatan ini bergantung pada sejumlah faktor, yaitu kemampuan subyek untuk
memahami dan mengingat apa yang ia lihat, mengidentifikasi karakter bermedia,
dan berbagai hal yang membimbing kepada proses pemodelan perilaku. Teori sosial
kognitif adalah salah satu teori yang paling sering digunakan untuk meneliti
media dan komunikasi massa.
8. Teori Pengembangan (Cultivation Theory)
Teori pengembangan adalah suatu pendekatan yang dibangun oleh
Profesor George Gerbner. Ia memulai proyek penelitian mengenai
indikator-indikator budaya pada pertengahan tahun 1960an. Penelitian ini untuk
mengkaji apakah dan bagaimana menonton televisi dapat mempengaruhi ide atau
gagasan pemirsa mengenai dunia.
Berdasarkan pendapat
para peneliti, televisi adalah pendongeng utama di dalam masyarakat masa kini.
Selain itu, televisi juga telah menjadi sumber utama sosialisasi bagi
masyarakat. Televisi juga menampilkan sebuah mainstream atau pandangan yang
seragam mengenai dunia saat ini.
Selain itu, terdapat
beberapa tema yang secara konsisten diangkat ke layar televisi yaitu
kekerasaan, peran gender secara stereotype, dan berbagai macam program virtual
lainnya. Semakin sering seseorang menonton televisi maka akan ia akan semakin
percaya bahwa bahwa kenyataan yang ada dalam tayangan televisi sama dengan
kenyataan yang ada dalam kehidupan nyata. Karenanya, pemirsa kelas berat akan
merasa bahwa dunia tempat ia tinggal adalah tempat yang paling berbahaya.
9. Teori Jarum Hipodermik (Hypodermic Needle Theory)
Teori jarum hipodermik
disebut juga dengan Magic Bullet atau Stimulus Response Theory. Menurut teori
ini, media massa memiliki dampak yang sifatnya langsung, segera serta kuat
terhadap khalayak massa. Media massa pada kurun waktu 1940an hingga 1950an
digambarkan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perubahan perilaku.
Beberapa faktor yang memberikan kontribusi terhadap teori
kuatnya dampak media massa adalah berkembangnya popularitas radio serta
televisi yang begitu cepat, munculnya industri-industri persuasi seperti periklanan
dan propaganda, hasil penelitian yang dilakukan oleh Payne Fund pada
tahun 1930an yang menitikberatkan pada dampak motion pictures terhadap
anak-anak serta monopolisasi media massa yang dilakukan oleh Hitler selama
perang dunia II untuk menyatukan rakyat Jerman dibelakang partai Nazi.
Teori ini
mengasusmsikan bahwa media massa dapat mempengaruhi sebagian besar kelompok
orang-orang secara langsung dan seragam dengan cara membombardir mereka dengan
pesan-pesan yang sesuai yang dirancang untuk memantik respon yang diinginkan.
10. Teori Dua Tahap (Two Step Flow Theory)
Teori dua tahap diformulasikan oleh Paul F. Lazarfeld dan
kawan-kawan berdasarkan hasil survey terhadap pemilih. Hasil penelitian ini
menyebutkan bahwa hubungan sosial informal memegang peranan dalam memodifikasi
perilaku yang mana masing-masing individu memilah isi media kampanye.
Studi ini juga
mengindikasikan bahwa berbagai ide atau gagasan seringkali mengalir dari radio
dan surat kabar kepada pemuka pendapat dan dari mereka kemudian disampaikan
kepada masyarakat. Oleh karena itu, kelompok sosial informal memiliki beberapa
tingkatan dalam mempengaruhi orang-orang dan cara mereka memilah isi media dan
bertindak terhadapnya.
11. Teori Penggunaan dan Kepuasan (Uses and Gratification
Theory)
Teori ini yang digagas oleh Elihu Katz, Jay
G. Blumler dan Michael Gurevitch muncul sebagai
reaksi terhadap penelitian komunikasi massa tradisional yang menekankan pada
pengirim dan pesan. Teori penggunaan dan kepuasaan menekankan pada khalayak
yang aktif dalam menggunakan media massa. Yang menjadi poin utama teori
penggunan dan kepuasan adalah orientasi psikologis dalam memenuhi kebutuhan,
motivasi, dan kepuasan pengguna media massa.
Asumsi teori
penggunaan dan kepuasaan adalah menjelaskan penggunaan serta fungsi media bagi
individu, kelompok, dan masyarakat secara umum. Terdapat tiga tujuan dalam
mengembangkan teori penggunaan dan kepuasan yaitu:
·
Menjelaskan bagaimana masing-masing individu menggunakan
komunikasi massa untuk memuaskan kebutuhannya,
·
Menemukan hal-hal yang mendasari motivasi penggunaan media dari
masing-masing individu,
·
Mengidentifikasi konsekuensi positif maupun negatif dari
penggunaan media oleh masing-masing individu.
Inti dari teori
penggunaan dan kepuasan terletak pada asumsi anggota khalayak secara aktif
mencari media massa untuk memenuhi kebutuhan masing-masing individu.
12. Teori Media (Medium Theory)
Marshall McLuhan dan Harold Innis adalah
dua orang peneliti yang seringkali diasosiasikan dengan teori media. Teori
media dicetus oleh Marshall McLuhan (1964) yang menyatakan bahwa medium
is the message atau media adalah pesan.
Pernyataan ini
menekankan pada bagaimana media komunikasi berbeda tidak hanya dalam
terminologi isi tetapi juga pada bagaimana mereka dibangun dan disalurkan
melalui pikiran dan rasa. Ia membedakan media dengan proses kognitif. Ide
McLuhan yang paling terkenal adalah saluran sebagai kekuatan dominan yang harus
dipahami untuk mengetahui bagaimana media mempengaruhi masyarakat dan budaya.
Teori media
menitikberatkan pada karaketristik media itu sendiri lebih dari sekedar apa
yang dikirimkan atau bagaimana suatu informasi diterima. Dalam teori media,
sebuah media tidaklah sesederhana sebuah surat kabar, internet
sebagai media informasi, kamera digital
dan sebagainya. Lebih dari itu, media merupakan lingkungan simbolis dari
beberapa tindakan komunikatif.
Di sisi lain, media
sebagai bagian dari pesan apapun yang dikirimkan, memiliki dampak bagi setiap
individu dan masyarakat. Tesis McLuhan menyatakan bahwa orang-orang beradaptasi
terhadap lingkungannya melalui berbagai macam keseimbangan atau rasio indrawi,
dan media saat ini utamanya membawa sebuah rasio inderawi yang mempengaruhi
persepsi.
13. Teori Kekayaan Media (Media Richness Theory)
Teori yang dianggap sangat mempengaruhi teori media paling tidak
untuk media baru adalah teori kekayaan media yang dicetuskan oleh Richard
Daft dan Robert Lengel dalam sebuah artikel tahun
1986. Teori kekayaan media didasarkan pada teori kontingensi dan teori proses
informasi yang dicetuskan oleh Galbraith (1977).
Dua asumsi utama dari
teori kekayaan media adalah orang-orang menginginkan dapat mengatasi
ketidakpastian dalam organisasi serta keberagaman media yang secara umum
digunakan dalam sebuah organisasi kerja lebih baik untuk menyelesaikan tugas
dibandingkan yang lain.
Dengan menggunakan
empat macam kriteria, Daft dan Lengel menyajikan hierarki kekayaan media yang
diawali dari tingkat kekayaan yang tinggi ke tingkat kekayaan yang lebih rendah
untuk mengilustrasikan kapasitas berbagai tipe media terhadap proses komunikasi
dalam organisasi. Kriteria tersebut adalah ketersediaan umpan balik yang
segera, kapasitas media untuk mentransmisikan berbagai petunjuk seperti bahasa
tubuh, intonasi suara dan infleksi, penggunaan bahasa sebagai
alat komunikasi, dan fokus personal terhadap media.
Komunikasi tatap muka
adalah media komunikasi yang paling kaya dalam sebuah hierarki diikuti
berikutnya oleh telepon, surat elektronik, surat, catatan, memo, laporan khusus
dan flyer serta bulletin. Dilihat dari perspektif strategi manajemen, teori
kekayaan media berpendapat bahwa manajer dapat melakukan beberapa improvisasi
dalam penampilan dengan menyesuaikan karakteristik media dengan karakteristik
tugas.
14. Teori Konsistensi (Consistency Theories)
Festinger
memformulasikan teori konsistensi yang membicarakan tentang kebutuhan
orang-orang untuk konsisten terhadap keyakinan dan penilaian yang dimiliki.
Dalam rangka untuk mengurangi disonansi yang dibentuk oleh inkonsistensi dalam
kepercayaan, penilaian, dan tindakan, orang akan mengekspos dirinya dengan
beragam informasi yang konsisten dengan ide dan tindakan mereka serta menutup
bentuk-bentuk komunikasi lain.
15. Teori Difusi Inovasi (Diffusion of Innovations Theory)
Teori yang digagas oleh Bryce Ryan dan Neil
Gross (1943) menitikberatkan pada proses dimana sebuah ide baru
dikomunikasikan melalui beragam saluran komunikasi diantara anggota suatu
sistem sosial. Model ini menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi pikiran
serta tindakan orang-orang serta proses mengadopsi sebuah teknologi atau ide
baru.
Sumber :
1. Jahi, Amri. 1988. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia Ketiga. Jakarta : PT Gramedia.
2. Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
3. Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : PT Grasindo.
Komentar
Posting Komentar